
Serangan udara Israel menimpa Gereja Keluarga Kudus (Holy Family Church), satu-satunya gereja Katolik di Jalur Gaza, pada Kamis (17/7/2025).
Sebanyak tiga orang tewas dan sedikitnya sembilan lainnya luka-luka, termasuk seorang imam yang mengalami cedera ringan.
Serangan ini terjadi ketika puluhan warga sipil—termasuk lansia dan anak-anak—tengah berlindung di dalam kompleks gereja.
Ledakan menghantam bagian atap gereja dan menyebabkan puing serta serpihan tersebar ke seluruh halaman.
Shadi Abu Dawoud (47), seorang warga Kristen Palestina yang berlindung di gereja tersebut, menceritakan momen mencekam saat bom menghantam.
“Kami benar-benar terkejut dengan serangan udara ini. Ini tindakan yang kejam dan tak bisa dibenarkan,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Ibunya yang lansia mengalami luka serius di kepala saat sedang berjalan-jalan di halaman gereja bersama sejumlah perempuan lanjut usia lainnya.
Sementara itu, beberapa korban lainnya berada di tenda bantuan psikososial milik Caritas ketika ledakan terjadi.
Caritas Yerusalem melaporkan bahwa salah satu korban tewas adalah Foumia Issa Latif Ayyad (84), yang saat itu tengah menjalani terapi dukungan mental.
Korban lainnya termasuk penjaga gereja berusia 60 tahun, Saad Issa Kostandi Salameh, dan seorang perempuan bernama Najwa Abu Daoud.
Video yang diverifikasi Al Jazeera memperlihatkan Pastor Gabriele Romanelli, Imam Paroki Gereja Keluarga Kudus, berjalan tertatih dengan perban di kakinya setelah serangan.
Ia sempat memeriksa kondisi korban lain yang dibawa ke RS Al-Ahli dengan tandu.
“Jika Pastor Gabriel tidak memperingatkan kami untuk tetap berada di dalam ruangan, bisa saja 50 sampai 60 orang tewas hari ini. Bisa jadi pembantaian,” ujar seorang staf Caritas kepada BBC.
Pihak Patriarkat Latin Yerusalem, yang menaungi gereja tersebut, menegaskan bahwa serangan itu mengenai gereja secara langsung.
“Kami tahu pasti bahwa sebuah tank—kata militer Israel, secara tidak sengaja—menembak langsung ke gereja,” kata Kardinal Pierbattista Pizzaballa kepada Vatican News.